2 Cerita Inspirasi

Karya Sendiri Itu Lebih Indah

Dalam tugas ini saya diharuskan membuat sebuah kisah inspiratif yang didasarkan oleh pengalaman pribadi saya sendiri.  Saya tidak tahu apakah cerita saya ini akan menginspirasikan orang lain atau tidak, tetapi saya harap cerita ini bisa menginspirasi siapa saja yang membaca cerita saya ini.

Sejak kecil sebenarnya saya suka dengan pelajaran Seni Melukis, walaupun saya tidak pandai melukis, dan hasilnya pun tidak bagus, tapi saya tetap suka melukis, saya suka menciptakan dunia imajinasi saya sendiri ke dalam lukisan.  Jujur saya takut dengan pelajaran akan pelajaran seni di sekolah, saya minder karna saya tidak pandai melukis.  Saya minder, karena teman-teman saya yang lain mempunyai hasil karya yang jauh lebih bagus dari pada saya.

Kejadian ini terjadi saat saya masih duduk di bangku SMA kelas satu di SMAN 97 Jakarta.  Suatu hari saya mendapat tugas untuk membuat lukisan batik, mau tidak mau saya harus mengalahkan rasa takut saya itu, saya mencoba menggali ide kreatif saya, tidak mudah, dari suatu design ke design lain, dari satu kertas ke kertas lain, dan berkutat dengan warna-warna yang pas untuk design batik saya.  Lukisan pun selesai, saya melihat hasil lukisan saya, dan saya berpendapat bahwa hasilnya tidak bagus.  Rasanya saya ingin mengulang melukis batik itu lagi.  Tapi saya tetap percaya diri, saya menganggap mensugestikan dalam diri saya bahwa tugas saya merupan suat hasil karya lukisan yang indah.

Tugas itu pun dikumplkankan dan dibagi seminggu setelahnya, saya melihat nilai saya, dan ternyata saya mendapat hasil yang bagus, nilai saya lumayan tinggi.  Saya tidak percaya, guru saya berpendapat bahwa hasil karya saya itu bagus.

Sejak saat itu, tugas demi tugas saya kerjakan dengan suka hati, saya semakin percaya diri, walaupun beberapa teman saya yang saya tanyakan pendapatnya tentang hasil karya saya mengatakan hasil karya saya kurang bagus, saya tetap menganggap hasil karya saya itu bagus, saya menghargai hasil karya itu karena merupakan hasil kerja saya sendiri.  Dan tugas demi tugas pun saya bisa mendapatkan nilai yang bagus.

Kejadian ini juga terjadi kepada teman saya, dia pernah mengatakan “kenapa aku kalau melukis tidak pernah bagus ya?”, lalu saya menjawab, “mungkin karena kamu tidak menghargainya, coba deh kamu bilang lukisan kamu itu bagus, bagaimanapun itu kan hasil karya kamu sendiri, jadi hargailah, dan anggap kalau itu bagus”.  Sejak saya mngatakan hal tersebut, hal itu dibuktikannya sendiri, dia mengatakan “wah, benar apa kata kamu, lukisan saya bagus karena saya bisa menghargai karya saya sendiri” .

Jadi yang ingin saya sampaikan disini, hargailah hasil karya mu sendiri, walaupun pendapat orang lain itu tidak bagus, karena dengan sendirinya karya itu akan bagus karena kamu mengahargainya sebagai hasil keringatmu sendiri, tidak dari hasil contekan dari orang lain.

“Ayah, maafkan Dita”

Sepasang suami istri (seperti pasangan lain di kota2 besar meninggalkan anak2 diasuh pembantu rumah tangga sewaktu bekerja).
Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Ia sendirian di rumah dan kerap  kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya…karena mobil itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini!!!…”

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga terkejut. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan, “Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yang kamu lakukan?” hardik si istri.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yang membuat gambar itu ayahhh..cantik kan..!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.

Si ayah yang sudah kehilangan kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya pada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab si pembantu ringkas. Kasih minum Panadol saja,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur, ia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik..Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu.

Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.
Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan…” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut… “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi…

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata istrinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah..ibu..Dita tidak akan melakukannya lagi… Dita tidak mau lagi ayah pukul. Dita tidak mau jahat lagi…Dita sayang ayah…sayang ibu.”, katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah…kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil? Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?.. Bagaimana caranya Dita mau bermain nanti?.. Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi.” katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata2 anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun apa yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski ia sudah meminta maaf.

Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran batin sampai suatu saat sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan ia wafat diiringi tangis penyesalan yang tak bertepi.

Namun…si anak dengan segala keterbatasannya dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya…

“Sering dalam hidup kita bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu…dan tanpa kita sadari tindakan itu dapat membawa penyesalan seumur hidup kita…
So…berpikirlah dahulu sebelum bertindak!!!”

Posted in Uncategorized | Leave a comment